Keakraban Dahlan di Acara Penganugerahan

Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kemarin (29/3) menghadiri acara peringatan Hari Pers Nasional 2017 sekaligus HUT ke-71 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur.

20170330_102412-1

Dalam acara yang digelar di Gedung Negara Grahadi Surabaya Jawa Timur itu, Bapak SBY menerima penghargaan berupa Anugerah Prapanca Agung dari PWI Jawa Timur karena dinilai sebagai putra terbaik bangsa.

Di sela-sela acara itu, ada pandangan yang humanis. Kesan keakraban dan kekeluargaan dalam acara itu pun terlihat begitu terasa.

Seperti terlihat kala satu tokoh nasional lain yang hadir, mantan Menteri BUMN era pemerintahan Bapak SBY, Dahlan Iskan mencium tangan Ibu Ani Yudhoyono dengan penuh kehangatan. Layaknya adik mencium tangan kakaknya dengan penuh rasa hormat.

Pemandangan penuh keakraban dan kehangatan itu telah memberikan kesejukan. Apalagi dalam kondisi perpolitikan bangsa yang kerap bergejolak seperti saat ini. (*BF)

Sumber:

Warta Kota (30/3/17) Halaman 2

Advertisements

SBY: Kita Punya PR Mengembalikan Pers Sebagai Pilar Demokrasi

Hari ini (29/3) bertempat di Surabaya, Jawa Timur, Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dianugerahi penghargaan istimewa oleh PWI Jawa Timur.

Dalam penggalan pidatonya di acara Peringatan Hari Pers Nasional itu, Bapak SBY sempat mempertanyakan tiga hal besar soal kondisi dunia pers saat ini.

Screenshot_2017-03-29-15-26-00-1.png

“Pertama, ada tidak televisi, radio, koran, majalah, media online dan sosial yang diorganisasi, yang sangat berpihak dan menjadi corong pihak tertentu?”, tanya Bapak SBY pada para audiens untuk direnungkan.

“Kedua, ada tidak pengaruh pemilik modal, terhadap pemberitaan medianya, yang sangat publik merasakan sebagai sangat berpihak, bias, dan berat sebelah?”, lanjut Bapak SBY.

Dan terakhir pertanyaan besar Bapak SBY, “ketiga, ada tidak pengaruh kekuasaan yang juga membikin sebuah media jauh dari independensi, dan sebaliknya sangat berpihak  dan menjadi corong mereka yang mempunyai kekuasaan?”.

Menurut Bapak SBY, jika dari ketiga pertanyaan besar soal kondisi dunia pers itu benar adanya, maka bangsa Indonesia mempunya pekerjaan rumah yang besar untuk mengembalikan marwah dunia pers.

“Kalau jawabannya, ‘ya memang ada’, kita punya pekerjaan rumah yang sangat besar untuk mengembalikan marwah dunia pers dan media kita sebagai pilar demokrasi dan agen pembangunan bangsa”, demikian pesan Bapak SBY. (*BF)

Penghargaan Istimewa PWI Kepada Presiden ke-6 RI

Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pada Rabu (29/3/2017) ini menerima penghargaan Anugerah Prapanca Agung di Gedung Negara Grahadi Surabaya.

Screenshot_2017-03-29-14-25-18-1.png

Penghargaan itu diberikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur. Menurut Ketua PWI Jawa Timur, Akhmad Munir, penganugerahan tersebut diberikan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2017 sekaligus HUT ke-71 PWI Tingkat Jawa Timur.

Anugerah Prapanca Agung, menurut Munir, adalah penghargaan istimewa, karena baru dikeluarkan pertama kali oleh PWI Jawa Timur. “Kami menilai SBY adalah putera bangsa yang memiliki dedikasi dan peran luar biasa dalam membangun bangsa,” jelasnya.

PWI Jawa Timur setiap tahun memberikan penghargaan berupa PWI Jatim Award kepada para tokoh nasional asal Jawa Timur. Penghargaan diberikan kepada tokoh yang dinilai memiliki prestasi terbaik di bidangnya.

sumber:

http://regional.kompas.com/read/2017/03/29/10484291/sby.dapat.penghargaan.istimewa.dari.pwi.jatim

Sikap Ksatria Sang Demokrat Muda

Politikus Partai Demokrat Ruhut Sitompul menyatakan konsisten dengan keputusannya mendukung pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) dalam pilkada DKI Jakarta 2017. Sikap Ruhut ini pun berbeda dengan sikap partainya yang mendukung Agus Harimurti Yudhoyono-Syilviana Murni sebagai cagub dan cawagub DKI Jakarta.

1604524cekkesehatan20780x390

Dalam pernyataannya saat dihubungi kompas.com, Jumat (23/9/2016), Ruhut mengatakan, “Kalau Demokrat enggak suka aku, silahkan pecat aku”. Demikian pula saat dikonfirmasi oleh tribunnews.com, Jumat (23/9/2016), Ruhut menyampaikan, “Aku tetap ahok. Aku selalu pegang tangan tuhanku. Hidup ini hitam putih enggak pernah abu-abu makanya dihormati orang. Agus itu adik aku, jangan karena ambisi politik, seorang calon leader di TNI dikorbankan,”.

“Walaupun kadang-kadang aku takut kalau dia enggak menang, kasihan. Umurnya masih kepala tiga, tahunya harus pensiun, ngeri sekali”, demikian Ruhut menambahkan.

Disisi lain, menanggapi pernyataan Ruhut tersebut, alih-alih Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) merasa geram atau terpancing emosinya. Agus malah bersikap sebaliknya, dingin menanggapi Ruhut. Agus malah menghargai perbedaan sikap Ruhut Sitompul secara terang-terangan tersebut.

Saat dijumpai pada acara “Tjanting Fun Day”, Gelora Bung Karno, Jakarta Selatan, Minggu pagi (2/10), Agus mengatakan, Semua orang pasti punya pandangan, ini demokrasi, ya kita hargai lah,”.

Sikap menghargai perbedaan dan menjunjung nilai persaudaraan yang ditunjukkan oleh Agus ini menjadi bukti sikap ksatria beliau yang telah dimilikinya sejak kecil dan ditempanya hingga dewasa. Dan dalam era demokratis ini yang menjadikan Agus memiliki nilai lebih atas sikapnya tersebut. (*BF)

Sumber:

http://nasional.kompas.com/read/2016/09/23/11343021/tetap.dukung.ahok.ruhut.siap.dipecat.demokrat

http://jabar.tribunnews.com/2016/09/23/tetap-sepenuh-hati-dukung-ahok-ruhut-sitompul-agus-itu-adik-aku

http://news.detik.com/berita/d-3305226/ruhut-aku-takut-agus-yudhoyono-enggak-menang-ngeri-sekali

http://www.cnnindonesia.com/politik/20161002084137-32-162662/agus-yudhoyono-hargai-perbedaan-sikap-ruhut-hayono/

http://news.okezone.com/read/2016/10/02/338/1504007/agus-yudhoyono-hargai-sikap-ruhut-dan-hayono-isman

Pemimpin Muda Harapan Baru Jakarta #AGUSForJakarta1

Nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) kian dikenal masyarakat luas. Hal itu tak lain dikarenakan Agus, sapaan Agus Harimurti Yudhoyono putra Presiden RI keenam Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta pada Pilkada 2017.

14446202_126138907846145_8128993457134978232_n

Beragam pandangan masyarakat pun bermunculan dengan majunya Agus dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Pandangan positif dari banyak masyarakat mengalir. Karena menilai mantan Komandan Bataliyon Infanteri Mekanis 203 Arya Kamuning ini dipandang sebagai perwira menengah yang sarat prestasi.

Namun ada pula sebagian masyarakat yang berpandangan negatif karena menilai Agus tidak berpengalaman sebagai pemimpin daerah. Namun sekali lagi pandangan miring itu hanyalah sikap ketidak-sukaan terhadap munculnya pemimpin muda penuh talenta yang akan membawa perubahan baru.

Di media sosial Twitter siang ini, dukungan terhadap Agus mengalir deras. Bahkan muncul tanda pagar #AGUSForJakarta1 yang memuncaki trending topic Twitter Indonesia pada siang ini.

Beragam dukungan pun disuarakan oleh para netizen. Akun Ayyuuu (‏@nurayungts) berpandangan, “biasanya kalo pemimpin dari kalangan militer itu bagus karna udh punya jiwa pemimpin, semoga mas Agus jd yg trbaik yak #AGUSForJakarta1”.

Akun SASA ‏(@SafitrySasa) berpandangan, “Pintarnya mas agus, cerdasnya mas agus yaaa jgn diragukan, lihat segi pendidikan nya. Klo masalah ganteng mah Bonus! #AGUSForJakarta1”. Dan akun Devi Rahmawati ‏(@Drdevirahmawati) pun berpesan, “Jadilah pemimpin yang mau mendengarkan masukan dari siapapun. #AGUSForJakarta1”.

Massifnya dukungan masyarakat (netizen) ini menandakan bahwa kehadiran Agus laksana mentari yang memberi harapan baru terhadap perbaikan negeri. *BF

Lihat:

https://twitter.com/nurayungts/status/783897910006026240

https://twitter.com/DRdevirahmawati/status/783891751782064128

https://twitter.com/SafitrySasa/status/783890871540342784

 

Dengar Aspirasi Publik (Netizen), Pemerintah & DPR Menunda Revisi UU KPK

Partai Demokrat (PD) mengadakan diskusi bersama netizen dengan tema Perlukah Revisi UU KPK yang dihadiri Ketum PD Bapak SBY dan istrinya Ibu Ani Yudhoyono pada hari Sabtu 20 Februari kemarin di di Raflles Hills Cibubur.

Ada sekitar 25 netizen yang hadir dalam diskusi tersebut. Mereka yang hadir di antaranya kalangan dokter, jurnalis, dan mahasiswa dari berbagai daerah seperti Bandung, Tasikmalaya, Purwokerto, dan Jakarta.

076536500_1455944394-SBY-Netizen-Revisi_UU_KPK

Pandangan Publik (Netizen)

Seorang netizen yang berprofesi mahasiswa M Fadhil Pradana mengungkapkan pandanganya, “Kami melihat kegelisahan masyarakat terhadap revisi UU KPK ini. Kami yang hadir di sini tidak mewakili partai politik apapun, tapi justru untuk memperkuat KPK,”. Netizen lain yang juga mahasiswa Bella Tahar berpendapat, revisi UU KPK ini justru menunjukan masyarakat meragukan peraturan yang sudah berlaku saat ini. Karena itu, revisi belum perlu dilakukan.

Sedangkan netizen lain Triniani Novianti yang berprofesi sebagai dokter turut menyuarakan pendapatnya. Menentukan perlu tidaknya revisi UU KPK sebenarnya mudah, cukup melihat kinerja lembaga antikorupsi sekarang ini. “Menurut saya kembali ke tujuan awal, yaitu KPK dibentuk untuk memberantas korupsi. Perlu melihat kinerja KPK, jika baik, maka tak perlu direvisi. Tetapi jika memang kurang baik maka revisi ini diperlukan,” kata dokter asal Jakarta ini.

Sikap Bapak SBY Menolak Revisi UU KPK

Dalam diskusi itu juga, Bapak SBY selaku Ketum PD dan Presiden ke-6 RI, memberikan pandangan terhadap revisi Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bapak SBY menyatakan menolak revisi UU KPK tersebut karena klausul draf yang tengah digodok DPR justru melemahkan KPK dan rawan intervensi kekuasaan terhadap lembaga anti-rasuah tersebut.

“Partai Demokrat dan saya pribadi berpendapat, draf revisi terhadap rencana revisi Undang-undang KPK yang disusun oleh DPR RI, yang teksnya ada, justru bisa melemahkan KPK, karena bisa menimbulkan dualisme. Sebagian saudara-saudara juga mengatakan, bisa menimbulkan konflik of otoritas di tubuh KPK,” kata Bapak SBY.

Menurut Bapak SBY, potensi intervensi kekuasaan kepada KPK baik langsung atau tidak langsung tersebut dapat diketahui setelah dirinya bersama PD melakukan pengkajian mendalam dengan membaca dengan tenang kalimat demi kalimat yang tertuang dalam draf revisi UU KPK inisiasi DPR.

Dengan alasan logis tersebut, Bapak SBY menegaskan, dirinya dan partainya menolak revisi UU KPK. “Dan suara ini akan kami bawa dalam Rapat Paripurna DPR RI minggu depan (Selasa, 23/2/2016),” ujar Bapak SBY.

Suara Publik (Netizen) & Bapak SBY Mempengaruhi Sikap Pemerintah dan DPR

Belum sampai draf revisi UU KPK dibahas dalam Rapat Paripurna DPR RI yang diagendakan esok hari Selasa 23 Februari 2016, Presiden Jokowi akhirnya bersikap dan menyatakan bahwa dirinya bersama DPR sepakat untuk menunda pembahasan revisi UU KPK. Hal itu disampaikannya pada Senin siang (22/2/2016) dalam jumpa pers bersama perwakilan DPR di Istana Negara.

Presiden Jokowi pun menuturkan perlunya waktu untuk mensosialisasikan ke masyarakat, “dan saya pandang perlu adanya waktu yang cukup untuk mematangkan rencana revisi UUK KPK dan sosialisasi ke masyarakat,” tutup Presiden Jokowi.

Sikap Presiden Jokowi tersebut mendapat respon baik dari berbagai pihak. Wakil Ketua DPR Fadli Zon menyambut baik hal itu. Menurut Fadli, keputusan itu sejalan dengan aspirasi publik. Seperti hasil diskusi yang digelar Bapak SBY dan PD dalam mendengar penolakan revisi UU KPK dari publik atau para netizen. (*BF)

Sumber:

http://news.liputan6.com/read/2440993/sby-gelar-diskusi-revisi-uu-kpk-bareng-netizen

http://lampung.tribunnews.com/2016/02/21/sby-beberkan-alasan-tolak-revisi-uu-kpk-saat-diskusi-dengan-netizen

http://nasional.kompas.com/read/2016/02/22/15104411/Jokowi.dan.Pimpinan.DPR.Sepakat.Tunda.Revisi.UU.KPK

https://news.detik.com/berita/3148012/jokowi-minta-revisi-uu-kpk-ditunda

http://nasional.kompas.com/read/2016/02/22/16351061/Soal.Revisi.UU.KPK.Fadli.Zon.Bangga.terhadap.Jokowi

Berkat SBY Kritik, Pemerintah Siap Dikritik

Presiden keenam RI Bapak SBY memiliki pandangan khusus soal pemerintahan yang akan sukses. Menurut Bapak SBY, yang disampaikannya melalui akun Twitter @SBYudhoyono, pemerintah akan sukses dalam menjalankan tugasnya bila siap dikritik.

14_03_13-nas_01

Bapak SBY mengatakan bila Presiden dan pemerintah siap dikritik maka akan sukses melakukan tugasnya karena kritik tidak sama dengan menghujat dan menganggu. Bapak SBY pun mengatakan hingga kini partai yang dipimpinnya, Partai Demokrat, berada di tengah sebagai penyeimbang. Partai Demokrat konsisten mendukung pemerintah bila kebijakannya benar dan memberikan koreksi bila kebijakan pemerintah salah.

Sebelumnya, Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan membantah jika pemerintah atau orang dalam istana antikritik dari pihak mana pun. Hal tersebut dikatakan Luhut terkait dengan apa yang disampaikan oleh Bapak SBY seputar pandangannya soal proyek kereta cepat. Luhut mengatakan, pernyataan berupa kritikan terlebih hal itu ditunjukkan kepada pemerintah, tetap diterima asalkan hal itu masih sesuai koridor yang benar.

Sebelumnya juga Staf Khusus Presiden Bidang komunikasi, Johan Budi SP mengormati pandangan Bapak SBY terkait adanya lingkar kekuasaan Presiden Jokowi yang antikritik. Namun Johan Budi tidak mengetahui pihak yang dimaksud Bapak SBY tersebut. Johan Budi malah optimistis jika hal yang dimaksud Bapak SBY itu bukanlah ditujukan pada Presiden Jokowi. (*BF)

Sumber:

RakyatMerdeka/10/2/16/Hlm.1: SBY: Malu Kalau Menteri Tidak Klop

http://politik.news.viva.co.id/news/read/733971-sby-jadi-kritis-demokrat-bantah-ingin-ganggu-pemerintah

http://nasional.rimanews.com/politik/read/20160210/260764/SBY-Pemerintah-Benar-Kami-Dukung-Salah-Kami-Koreksi-

https://news.detik.com/berita/3138080/sby-saya-gembira-pemerintah-siap-dikritik-selamat-bertugas-presiden-jokowi

 

http://wartakota.tribunnews.com/2016/02/10/sby-pemerintah-harus-siap-dikritik-jika-ingin-sukses

http://news.okezone.com/read/2016/02/09/337/1307856/sanggah-pernyataan-sby-menko-polhukam-pemerintah-senang-dikritik

http://waspada.co.id/warta/sby-gembira-pemerintah-siap-dikritik/

 

http://www.beritasatu.com/nasional/348173-sby-kritik-istana-ini-jawaban-menko-polhukam.html

http://www.beritasatu.com/nasional/348186-johan-budi-yakin-sindiran-sby-bukan-ditujukan-kepada-jokowi.html

 

Kritikan Megawati Terkait Tata Kelola BUMN Saat Ini

Dalam pidatonya saat membuka Rapat Kerja Nasional I PDI Perjuangan di Hall D Jakarta International Expo Kemayoran, pada Minggu (10/1/2016), Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sempat mengkritik tentang tata kelola BUMN. Megawati mengatakan bahwa BUMN memiliki peran yang sangat penting dalam menunjang pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Jadi, kata Megawati, BUMN haruslah dikelola secara cermat agar memberikan dampak yang signifikan. Namun menurut Megawati, BUMN saat ini tak lagi mampu menjadi sokoguru perekonomian nasional. Saat ini BUMN hanya diperlakukan sebagai sebuah bisnis dan korporasi.

142403_257679_megawati

 

Banyak Politisi Menyetujui Kritikan Megawati

Kritikan Megawati terhadap keberadaan BUMN saat ini yang cenderung lebih berorientasi pada bisnis semata mendapat dukungan dari sejumlah tokoh politik, diantaranya politikus PDI Perjuangan Rieke Diah Pitaloka,  Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Mereka menilai seyogyanya BUMN lebih mengutamakan kepentingan rakyat.

Bahkan Ketua DPP Partai Nasdem, Akbar Faisal menilai apa yang disampaikan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati tersebut, menunjukan adanya sesuatu yang serius dalam tata kelola BUMN.

Pernyataan Megawati tersebut memberikan sinyal politik perihal isu reshuffle yang tengah bergulir saat ini. Fahri Hamzah yang menyetujui pandangan Megawati tersebut pun malah menyudutkan kinerja Menteri BUMN Rini Soemarno yang dinilainya harus lebih memprioritaskan kesejahteraan rakyat, dan bukan cenderung kepada kepentingan asing.

Media Massa Melihat Dari Lain Sisi

Namun di sisi lain, dalam tajuk beberapa media cetak pada hari Selasa (12/1/16) kemarin, Koran Sindo dan The Jakarta Post justru merasa heran dengan pandangan Megawati tersebut. Malahan kedua media cetak itu berpandangan sebaliknya. BUMN justru harus diperlakukan seperti swasta dengan profit oriented dan good corporate governance agar mampu memberi dividen dan pajak yang bagus untuk negara. Bahkan jika perlu dapat dilakukan listing di pasar saham agar kinerja BUMN lebih baik dan terpantau. Bukan malah menjadi sapi perah para politisi yang tidak bertanggung-jawab.

Netizen di Media Sosial Justru Antipati

Di media sosial, perbincangan tentang kritikan Megawati terhadap tata kelola BUMN tidak terlalu memperoleh atensi netizen. Namun demikian, kritikan Megawati yang terlihat ditujukan kepada Menteri BUMN Rini Soemarno, malah menuai antipati dari para netizen. Netizen justru menaruh simpati kepada Menteri BUMN Rini Soemarno. Seperti disampaikan akun HALIM JOU ‏@solor_ “@detikcom mudah-mudah pa @jokowi tetap pertahankan RIni sbg menteri BUMN. Kalau sampe diganti jgn dari kader partai”. Komentar akun ahwe ‏@onje8, “@okezonenews lebih baik..,mentri rini bagus kok”.

Bahkan ada netizen yang malah “menyerang balik” Megawati dengan menyoalkan mengenai penjualan Indosat pada era pemerintahan Megawati. Seperti disampaikan oleh akun bambang R ‏@BambangR4, “@detikcom saat jadi Presiden apa prestasi yang membanggakan? Indosat dijual dan ada kasus BLBI yang sampai saat ini masih penuh misteri. (*BF)

Lihat:

http://nasional.kompas.com/read/2016/01/10/13315811/Megawati.Kritik.Cara.Pengelolaan.BUMN

http://nasional.tempo.co/read/news/2016/01/10/078734674/megawati-sindir-peran-bumn

http://nasional.sindonews.com/read/1076501/12/kritik-megawati-soal-kementerian-bumn-disambut-positif-dpr-1452611581

http://nasional.tempo.co/read/news/2016/01/11/078735017/mega-sentil-bumn-kalla-setuju-tapi-belum-ingatkan-rini

http://www.aktual.com/nasdem-megawati-soroti-bumn-itu-sangat-serius/

http://news.okezone.com/read/2016/01/12/337/1286510/sentil-rini-soemarno-fahri-hamzah-puji-megawati